NAMA : Putri Rama Dhanti
KELAS :2-a
NPM :0371 12 131
NPM :0371 12 131
NAMA DOSEN :Dr.Nandang
MATA PELAJAR :Konsep Kimia Sekolah Dasar
MATA PELAJAR :Konsep Kimia Sekolah Dasar
NAMA TUGAS :
Resume Pertemuan ke-2
Tentang :
1.
Sifat – sifat zat
2.
Ciri-ciri zat
3.
Perubahan zat
4.
Tentang zat campuran
5.
Tentang larutan
1. Sifat-sifat zat
2.
ciri-ciri
zat berdasarkan wujudnya
a.
Zat Padat
Ciri
zat padat yaitu bentuk dan volumenya tetap. Contohnya kelereng yang
berbentuknya bulat, dipindahkan ke gelas akan tetap berbentuk bulat. Begitu
pula dengan volumenya. Volume kelereng akan selalu tetap walaupun berpindah
tempat ke dalam gelas. Hal ini disebabkan karena daya tarik antarpartikel zat
padat sangat kuat. Pada umumnya zat padat berbentuk kristal (seperti gula pasir
atau garam dapur) atau amorf (seperti kaca dan batu granit).
Partikel
zat padat memiliki sifat yang menybabkan volume dan bentuk zat padat selalu
tetap. Adapun sifat zat padat sebagai berikut:
1) Letaknya
sangat berdekatan
2) Susunannya
teratur
3)
Gerakannya tidak bebas, hanya bergetar dan berputar di tempatnya
b.
Zat Cair
Zat
cair mempunyai sifat bentuk berubah-ubah dan volumenya tetap. Bentuknya berubah-ubah dikarenakan
partikel-partikel pada zat cair berdekatan tetapi renggang, tersusun teratur,
gaya tarik antar partikel agak lemah. Volumenya tetap dikarenakan partikel pada
zat cair mudah berpindah tetapi tidak dapat meninggalkan kelompoknya.
Zat
cair memiliki volume tetap tetapi bentuk berubah-ubah sesuai dengan yang
ditempatinya. Apabila air dimasukkan ke dalam gelas, maka bentuknya seperti
gelas, apabila dimasukkan ke dalam botol akan seperti botol. Tetapi volumenya
selalu tetap. Bentuknya berubah-ubah dikarenakan partikel-partikel pada zat
cair berdekatan tetapi renggang, tersusun teratur, gaya tarik antar partikel
agak lemah. Volumenya tetap dikarenakan partikel pada zat cair mudah berpindah
tetapi tidak dapat meninggalkan kelompoknya.
Partikel
zat cair memiliki sifat yang menyebabkan volume zat cair tetap dan bentuknya
yang berubah-ubah. Adapun sifat zat cair sebagai berikut:
1) Letaknya
berdekatan
2) Susunannya
tidak teratur
3) Gerakannya
agak bebas, sehingga dapat bergeser dari tempatnya, tetapi tidak lepas
dari
kelompoknya.
c.
Zat Gas
Ciri
dari gas di antaranya bentuk dan volume berubah sesuai dengan tempatnya. Gas yang terdapat di balon memiliki
bentuk dan volume yang sama dengan balon. Gas yang terdapat di dalam botol,
bentuk dan volumenya sama dengan botol. Partikel-partikel gas bergerak acak ke
segala arah dengan kecepatan bergantung pada suhu gas, akibatnya volumenya
selalu berubah. Partikel zat gas memiliki sifat seperti berikut:
1) Letaknya
sangat berjauhan
2) Susunannya
tidak teratur
3)
Gerakannya bebas bergerak, sehingga dapat bergeser dari tempatnya
dan lepas dari kelompoknya, sehingga dapat memenuhi ruangan
3. Perubahan
Wujud Zat
1.
Zat padat berubah menjadi zat cair disebut “Mencair atau Pencairan”
Contoh
:
Es
krim yang berubah menjadi cair terkena suhu panas.
2.
Zat cair berubah menjadi benda padat disebut “Membeku atau Pembekuan “
Contoh
:
Membuat
agar-agar atau jelly.
3.
Zat padat berubah menjadi zat gas disebut “Menyublim atau Penyubliman “
4.
Zat gas berubah menjadi zat padat disebut “Menghablur atau Penghabluran”
Contoh
:
Pembuatan
ammonium sulfat dan ammonium nitrat bahan pupuk.
5.
Zat gas berubah menjadi zat cair disebut “Mengembun atau Pengembunan”
Contoh
:
Udara
lembab dan dingin di pagi hari membuat embun di pucuk daun.
6.
Zat cair berubah menjadi zat gas disebut “Zat cair berubah menjadi zat gas “
Contoh
:
Spiritus
menguap saat terkena udara.
4.
Campuran
Air laut tergolong ke dalam campuran karena
air laut terdiri atas air dan berbagai garam. Dari contoh tersebut kita dapat
mengetahui bahwa campuran merupakan gabungan dua jenis zat atau lebih.
Campuran mempunyai sifat yang berbeda dengan senyawa. Dalam campuran sifat-sifat komponen tidak hilang. Ketika garam dapur dilarutkan dalam air, kedua zat itu tidak bersenyawa, melainkan bercampur.
Rasa garam sebelum dan sesudah dicampurkan tetap terasa asin, begitu pula dengan air. Air sebelum dicampurkan dan sesudah dicampurkan tetap dapat memadamkan api. Kemudian juga garam dengan air dapat bercampur dalam berbagai komposisi sesuai yang dikehendaki. Tidak demikian halnya dengan bersenyawa. Senyawa mempunyai kompisisi tertentu. Air sebagai contoh, terdiri dari hidrogen dan oksigen dengan perbandingan atom 2:1 Jadi, kita dapat menyatakan bahwa bersenyawa membentuk zat baru (berlangsung secara kimia), sedangkan bercampur tidak membentuk zat baru (berlangsung secara fisika).
a.
Jenis-Jenis Campuran
Campuran dapat berupa:
1. Campuran homogen
Ciri:ciri:
1.
Terdiri dari zat terlarut (solut) dan pelarut
(solven). Biasanya, komponen yang lebih banyak jumlahnya disebut sebagai zat
pelarut, sedangkan yang lebih sedikit disebut sebagai zat terlarut. Namun, jika
larutan berwujud cair, maka komponen cair disebut sebagai zat pelarut.
2.
Serba sama, tidak ada bidang batas antar
komponen-komponen penyusunnya
3.
Tidak
dapat disaring
4.
Tidak terdapat lapisan (komponen padat dan
cair tidak memisah)
Contoh:
·
Udara - Air gula
·
Sirup - Air cuka
·
Air hujan – Spirtus
2. Campuran heterogen
Campuran heterogen terdiri
atas:
a. Suspensi
Ciri-ciri:
1.
Keruh
2.
Ada bidang batas antar komponen-komponen
penyusunnya
3.
Dapat disaring
4.
Mengendap
5.
Terdapat lapisan (kompenen padat dan cair
memisah)
Contoh:
·
Campuran terigu dan air
·
Campuran pasir dan air
·
Bubuk kopi dan air
b. Koloid
Ciri-ciri:
1.
Keruh
2.
Ada bidang batas antar komponen-komponen
penyusunnya (jika dilihat dengan mikroskop ultra)
3.
Dapat disaring dengan kertas saring ultra
4.
Komponen padat dan cair dapat memisah sendiri
dalam waktu relatif lama
5.
Dapat menghamburkan cahaya
Contoh:
·
Air susu - Cat – Tinta
·
santan - Asap – Kabut
Homogen
:
Campuran
homogen disebut juga larutan
Contoh
campuran homogen adalah teh dan susu
larutan
teh dan susu merupakan contoh campuran homogen karena tidak bisa lagi
membedakan komponen-komponen penyusun larutan tersebut, seperti bubuk susu,
air,dan gula. Karena komponen-komponen dalam larutan ini sudah tercampur
menjadi satu dan memiliki susunan komponen yang sama di semua bagian larutan.
Heterogen
:
Campuran
heterogen merupakan campuran yang penyusunnya tidak seragam atau tidak sama.
contoh
campuran heterogen adalah campuran antara tanah dengan batu krikil:
campuran
antara tanah dan batu krikil merupakan contoh campuran heterogen karena masih
dapat membedakan komponen-komponen penyusunnya. Seperti didalam kehidupan
sehari-hari masih dapat membedakan komponen penyusun campuran antara tanah dan
batu krikil karena di semua bagian campuran tersebut tidak seragam sehingga
kita bisa membedakannya.
5.Larutan
larutan
adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat.
Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut
atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat
lain dalam larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat
terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan,
sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut
pelarutan atau solvasi.
Contoh
larutan yang umum dijumpai adalah padatan yang dilarutkan dalam cairan, seperti garam atau gula dilarutkan dalam air. Gas juga dapat
pula dilarutkan dalam cairan, misalnya karbon dioksida atau oksigen dalam air. Selain itu, cairan dapat
pula larut dalam cairan lain, sementara gas larut dalam gas lain. Terdapat pula
larutan padat, misalnya aloi (campuran logam) dan mineral tertentu.
a. Konsentrasi
Konsentrasi larutan menyatakan secara kuantitatif
komposisi zat terlarut dan pelarut di dalam larutan. Konsentrasi umumnya
dinyatakan dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah total zat dalam
larutan, atau dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah pelarut.
Contoh beberapa satuan konsentrasi adalah molar, molal,
dan bagian per juta (part per million, ppm). Sementara itu, secara kualitatif,
komposisi larutan dapat dinyatakan sebagai encer (berkonsentrasi rendah)
atau pekat (berkonsentrasi tinggi).
b. Pelarutan
Ion
natrium tersolvasi oleh molekul-molekul air
Molekul
komponen-komponen larutan berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur. Pada
proses pelarutan, tarikan antarpartikel komponen murni terpecah dan tergantikan
dengan tarikan antara pelarut dengan zat terlarut. Terutama jika pelarut dan zat
terlarut sama-sama polar,
akan terbentuk suatu sruktur zat pelarut mengelilingi zat terlarut; hal ini
memungkinkan interaksi antara zat terlarut dan pelarut tetap stabil.
Bila
komponen zat terlarut ditambahkan terus-menerus ke dalam pelarut, pada suatu
titik komponen yang ditambahkan tidak akan dapat larut lagi. Misalnya, jika zat
terlarutnya berupa padatan dan pelarutnya berupa cairan, pada suatu titik
padatan tersebut tidak dapat larut lagi dan terbentuklah endapan. Jumlah zat
terlarut dalam larutan tersebut adalah maksimal, dan larutannya disebut sebagai
larutan jenuh. Titik tercapainya keadaan jenuh larutan sangat
dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, seperti suhu, tekanan, dan kontaminasi. Secara umum, kelarutan
suatu zat (yaitu jumlah suatu zat yang dapat terlarut dalam pelarut tertentu)
sebanding terhadap suhu. Hal ini terutama berlaku pada zat padat, walaupun ada
perkecualian. Kelarutan zat cair dalam zat cair lainnya secara umum kurang peka
terhadap suhu daripada kelarutan padatan atau gas dalam zat cair. Kelarutan gas
dalam air umumnya berbanding terbalik terhadap suhu.
c. Larutan ideal
Bila
interaksi antarmolekul komponen-komponen larutan sama besar dengan interaksi
antarmolekul komponen-komponen tersebut pada keadaan murni, terbentuklah suatu
idealisasi yang disebut larutan ideal. Larutan ideal mematuhi hukum Raoult, yaitu bahwa tekanan uap pelarut (cair) berbanding tepat lurus
dengan fraksi mol
pelarut dalam larutan. Larutan yang benar-benar ideal tidak terdapat di alam,
namun beberapa larutan memenuhi hukum Raoult sampai batas-batas tertentu.
Contoh larutan yang dapat dianggap ideal adalah campuran benzena dan toluena.
Ciri
lain larutan ideal adalah bahwa volumenya merupakan penjumlahan tepat volume
komponen-komponen penyusunnya. Pada larutan non-ideal, penjumlahan volume zat
terlarut murni dan pelarut murni tidaklah sama dengan volume larutan.
d. Sifat koligatif larutan
Larutan
cair encer menunjukkan sifat-sifat yang bergantung pada efek kolektif jumlah
partikel terlarut, disebut sifat koligatif
(dari kata Latin colligare, "mengumpul
bersama"). Sifat koligatif meliputi penurunan tekanan uap, peningkatan titik didih, penurunan titik beku, dan gejala tekanan osmotik.
e. Jenis-jenis larutan
Larutan
dapat diklasifikasikan misalnya berdasarkan fase zat terlarut dan pelarutnya. Tabel berikut menunjukkan
contoh-contoh larutan berdasarkan fase komponen-komponennya.
|
Contoh
larutan
|
Zat
terlarut
|
|||
|
Gas
|
Cairan
|
Padatan
|
||
|
Pelarut
|
Gas
|
Bau
suatu zat padat yang timbul dari larutnya molekul padatan tersebut di udara
|
||
|
Cairan
|
||||
|
Padatan
|
||||
Berdasarkan
kemampuannya menghantarkan
listrik, larutan
dapat dibedakan sebagai larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit. Larutan
elektrolit mengandung zat elektrolit sehingga dapat menghantarkan listrik,
sementara larutan non-elektrolit tidak dapat menghantarkan listrik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar