Model-model
Belajar dan Rumpun Model Mengajar
1.
Belajar
Kolaboratif
1.1 Hakikat Pembelajaran Kolaboratif
Belajar kolaboratif adalah
suatu kegiatan belajar antara dua orang atau lebih yang dilakukan secara
bekerja sama dalam suatu kelompok untuk memecahkan suatu masalah guna mencapai
tujuan tertentu. Inti dari belajar kolaboratif yatu adanya kerja sama antara
dua orang siswa atau lebih, memecahkan masalah secara bersama-sama, dan adanya
tujuan yang ingin
dicapai.
Ada dua unsur penting
dalam belajar kolaboratif yaitu tujuan yang sama dan rasa
ketergantungan yang positif antar anggota kelompok. Oleh karena itu untuk mencapai
tujuantertentu setiap siswa harus mempunyai rasa
ketergantungan yang positif maksudnya
setiap anggota kelompok akan berhasil mencapai tujuan apabila seluruh
anggotanya bekerja sama
1.2 Prinsip-prinsip yang
harus diperhatikan dalam menerapkan belajar kolaboratif
- Mengajarkan
keterampilan bekerja sama, mempraktekkan kerja sama, dan seberapa baik
kerja sama tersebut dilakukan.
- Masing-masing
individu diberi tanggung jawab dalam kegiatan belajar.
- Meningkatkan
kegiatan kelas untuk melaksanakan kelompok yang masing-masing anggotanya
saling ketergantungan.
1.3 Manfaat-manfaat
belajar kolaboratif antara lain
- Menumbuhkan
rasa tanggung jawab masing-masing individu.
- Belajar
memecahkan masalah bersama.
- Menumbuhkan
rasa kebersamaan antar anggota kelompok.
- Setiap
anggota merasa dirinya sebagai bagian dari kelpmpok
- Menambah
keberanian untuk mengungkapkan ide atau pendapat.
- Menambah
pengetahuan dan pengalaman anggota kelompok
2.
Belajar Kuantum
2.1
Hakikat belajar kuantum
Menurut
Udin Saefudin Sa’ud (2008:127) menyatakan bahwa: Model pembelajaran Kuantum
identik dengan sebuah simponi dan pertujukan musik. Maksudnya pembelajaran
Kuantum, memberdayakan seluruh potensi dan lingkungan belajar yang ada,
sehingga proses belajar menjadi seuatu yang menyenangkan dan bukan sebagai
sesauatu yang memberatkan.
Sedangkan menurut Sugiyanto (2008:126)
menyatakan bahwa: Pembelajaran Kuantum sebagi salah satu alternatif pembaharuan
pembelajaran, menyajikan petunjuk praktis dan spesifik untuk menciptakan
lingkungan belajar yang efektif, bagaimana menyederhanakan proses belajar
sehingga memudahkan belajar siswa. Pembelajaran Kuantum merupakan sebuah model
yang menyajikan bentuk pembelajaran sebagai suatu “orkestrasi” yang jika
dipilih dari dua unsur pokok yaitu: konteks dan isi. Konteks secara umum akan
menjelaskan tentang lingkup lingkungan belajar baik lingkungan fisik maupun
lingkungan psikhis. Sedangkan konten/isi berkenaan dengan bagaimana isi
pembelajaran dikemas untuk disampaikan kepada siswa.
Bobbi DePorter & Mike Hernacki
menganalogikan Quantum Learning dengan prinsip relativitas Einstein yaitu E=
mc2 yang artinya masssa kali kecepatan cahaya kuadrat sama dengan energi. Jadi
Quantum Learning sebagai “interaksi interaksi yang mengubah energi menjadi
cahaya”. Kemudian Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2003:16) juga menyatakan
bahwa “Tubuh kita secara fisik adalah materi. Sebagai pelajar, tujuan kita
adalah meraih sebanyak mungkin cahaya; interaksi, hubungan, inspirasi agar
menghasilkan energi cahaya.”
Quantum Learning berakar
dari upaya Lozanova dengan eksperimennya tentang suggestopedia. Prinsipnya bahwa sugesti dapat mempengaruhi hasil
belajar dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif atau negatif.
Beberapa tekhnik yang digunakan untuk memberikan sugesti psitif adalah sebagai
berikut :
1. Mendudukan siswa secara
nyaman
2. Memasang music latar
dalam kelas
3. Meningkatkan partisipasi
individu
4. Menggunakan poster untuk
memberikan kesan besar sambil menunjukan informasi
5. Menyediakan guru-guru
yang terlatih dalam seni pembelajaran sugesti
Seorang guru yang menerapkan pembelajaran kuantum di sebut
“mengorkestrasi belajar”. Pembelajaran kuantum mengandung unsure-unsur
kebebasan, santai, menakjubkan, menyenangkan dan menggairahkan. Indicator
pembelajaran kuantum berhasil jika siswa sejahtera. Siswa dikatakan sejahtera kalau
aktivitas belajarnya menyenangkan dan menggairahkan
2.2 Manfaat Belajar
Kuantum
1.
Suasana kelas menyenangkan.
2.
Siswa dapat memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya
sebagai pendorong belajar.
3.
Siswa belajar sesuai dengan gaya belajar masing-masing.
4.
Apapun yang dilakukan oleh siswa sepatutnya dihargai.
2.3 Prinsip-prinsip Utama
Pembelajaran Kuantum
1.
Segalanya
Berbicara. Prinsip Segalanya Berbicara mengandung
pengertian bahwa segala sesuatu di ruang kelas “berbicara”—mengirim pesan
tentang belajar. Dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru, dari kertas
yang dibagikan hingga rancangan pelajaran. Setiap detail mengabarkan
sesuatu—tentang diri dan sikap guru terhadap hal mengajar dan belajar. Sebab
itu dalam proses pembelajaran, guru wajib menggubah kelas menjadi “komunitas
belajar”—masyarakat mini yang setiap detailnya telah digubah secara saksama
untuk mendukung belajar optimal—dari cara mengatur bangku, menentukan kebijakan
kelas, hingga cara merancang pengajaran.
2.
Segalanya
Bertujuan. Segalanya Bertujuan berarti bahwa
semua upaya yang dilakukan guru dalam menggubah kelas mempunyai tujuan, yaitu
agar siswa dapat belajar secara optimal untuk mencapai prestasi yang tertinggi.
3.
Pengalaman
Sebelum Pemberian Nama. Proses belajar paling baik terjadi
ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk
hal-hal yang mereka pelajari. Pengalaman menciptakan ikatan emosional dan
peluang untuk penamaan. Pengalaman juga menciptakan pertanyaan mental, seperti: Apa?, Mengapa?,Bagaimana?. Jelasnya,
pengalaman membangun keingintahuan siswa, menciptakan petanyaan dalam benak
mereka, membuat mereka penasaran. Jadi, sebelum menyajikan materi pelajaran,
guru perlu terlebih dahulu memberi kesempatan kepada siswa untuk mengalami atau
mempraktikkan sendiri.
4.
Akui
Setiap Usaha. Belajar mengandung resiko. Belajar
berarti melangkah keluar dari kenyamanan. Ketika siswa telah mengambil langkah
ini, mereka patut diberi pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
Prinsip Akui Setiap Usaha mengandung konsekuensi bahwa dalam pembelajaran, guru
harus mengakui setiap usaha siswa, baik usaha yang sudah tepat atau yang belum.
Perlu dipahami bahwa dalam pembelajaran kuantum tidak dikenal istilah “gagal”. Yang ada hanyalahhasil dan umpan balik. Setiap hasil
adalah prestasi, dan masing-masing akan menjadi umpan balik demi pencapaian
hasil yang tepat sebagaimana dimaksudkan.
5.
Jika
Layak Dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan. Perayaan merupakan sarapan bagi
pelajar juara. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan
meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar. Mengadakan perayaan bagi
siswa akan mendorong mereka memperkuat rasa tanggung jawab dan mengawali proses
belajar mereka sendiri. Perayaan juga akan mengajarkan kepada siswa mengenai
motivasi hakiki tanpa “insentif”. Siswa akan menanti kegiatan belajar, sehingga
pendidikan mereka lebih dari sekadar mencapai nilai tertentu.Dalam proses
pembelajaran, guru dan siswa perlu sering-sering merayakan kesuksesan belajar,
dan menghubungkan belajar dengan perayaan. Bentuk perayaan, misalnya: tepuk
tangan, tiga kali hore, jentikan jari, kejutan, dan lain-lain.
3.
Belajar Kooperatif
3.1 Hakikat Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (Cooperative
Learning) adalah model pembelajaran yang mengacu pada metode
pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu
dalam belajar. Model pembelajaran ini melibatkan siswa dalam kelompok yang
terdiri dari empat atau lima siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda.
Pembelajaran kooperatif memiliki suatu struktur tugas dan penghargaan yang
berbeda dalam mengupayakan pembelajaran siswa. Struktur tugas itu menghendaki
siswa untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil. Struktur penghargaan
itu mengakui upaya kolektif dan individual. Dalam penerapan pembelajaran
kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk
mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan jika mereka
berhasil sebagai kelompok. Usaha-usaha kooperatif akan menghasilkan participant yang berusaha saling
menguntungkan.
3.2 Prinsip Belajar
Kooperatif
1.
Kesamaan tujuan
Tujuan yang sama pada anak-anak dalam
kelompok membuat kegiatan belajar leboh kooperatif. Pada suatu saat anak-anak
mungkin dapat bekerja kooperatif saat bertanya tentang ejaan suatu kata atau
berbagi pensil gambar saat menggambar. Jika suatu kelas bekerja sama dalam
suatu permainan, tujuan kelompok adalah menghasilkan suatu permainan yang
menyebabkan anak-anak lain senang atau mengapresiasi kelompok itu. Namun,
tujuan tiap anak mungkin ingin menarik perhatian kelas lain, yang lain
betul-betul menggunakan suatu kesempatan untuk mengerjakan tugas dengan baik.
Namun, makin sama tujuannya semakin kooperatif.
2. Ketergantungan Positif
Ketergantungan antar individu dapat
dilakukan dengan berbagai cara, sebagai berikut :
a. Beri anggota kelompok peranan khusu
untuk membentuk pengamat, peningkat, penjelas, atau perekam. Dengan cara ini
maka kontribusi setiap individu sangat diperlukan untuk suatu keberhasilan
b. Bagilah tugas mejadi sub sub tugas
yang diperlukan untuk memenuhi keberhasilan tugas. Setiap anggota kelompok
diberi sub tugas, input diperlukan
disetiap anggota kelompok
c. Nilailah kelompok sebagai satu
kesatuan yang terdiri dari individu-individu dan anak-anak dapat bekerja secara
berpasang-pasangan.
d. Struktur tujuan kooperatid]f fan
kompetitif dapat di koordinasikan dengan menggunakan kelompok belajar
kooperatif tanpa pertentangan satu sama lain.
e. Ciptakan situasi fantasi yang
menjadikan kelompok bekerja bersama membangun imajinasi.
3.3 Langkah-langkah Pembelajaran
Kooperatif
Terdapat 6 langkah utama atau tanggapan di dalam pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan
memotivasi peserta didik untuk belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian
informasi, seringkali dengan bahan bacaan dari pada secara verbal. Selanjutnya
peserta didik dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti
bimbingan guru pada saat peserta didik bekerja sama untuk menyelesaikan tugas
bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi kerja kelompok,
atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan
terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Enam tahap pembelajaran
koperatif dapat dirangkum pada tabel berikut:
|
Fase
|
Tingkah Laku Guru
|
Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik
Menyajikan informasi
Mengorganisasikan peserta didik ke dalam kelompok belajar
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Evaluasi
Memberikan penghargaan
|
|
3.4 Jenis-jenis Pembelajaran Kooperatif
1. Numbered Heads Toghether (NHT) atau Kepala Bernomor,
langkah-langkahnya:
1) Peserta didik dibagi dalam beberapa
kelompok dan setiap peserta didik mendapatkan nomor
2) Guru membagikan tugas dan
masing-masing kelompok mengerjakannya
3) Kelompok mendiskusikan jawaban yang
benar dan memastikan setiap kelompok mengerjakannya/mengetahui jawabannya
4) Guru memanggil salah satu nomor
siswa untuk melaporkan hasil kerja mereka
5) Peserta didik yang lain memberi
tanggapan
6) Guru menunjuk nomor yang lainnya
untuk kelompok berikutnya
7) kesimpulan
2.
Think
Pair and Share (TPS)
Srategi Think-pair-share yang
digunakan oleh para guru menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Guru menyampaikan inti materi dan
kompetensi yang ingin
Dicapai
2) Peserta didik diminta untuk berpikir
tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
3) Peserta didik diminta berpasangan
dengan teman sebelahnya dan mengutarakan pemikiran masing-masing
4) Guru memimpin diskusi kecil. Tiap
kelompok mengemukakan hasil diskusinya
5) Berawal dari kegiatan tersebut
mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum
diungkakan para peserta didik
6) Guru memberi kesimpulan/penutup
3.
STAD
(Student Teams Achievement Divisions)
Strategi
ini menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:
1)
Membentuk kelompok beranggotakan 4 peserta
didik secara Heterogen
2)
Guru
menyajikan pelajaran
3)
Guru
memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota
yang mengetahui menjelaskan kepada lainnya sampai mengerti
4)
Guru
memberi pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat peserta didik
menjawab pertanyaan tidak boleh saling membantu
5)
Memberi
evaluasi
6)
Penutup
4.
Jigsaw
Langkah-langkah pembelajarannya
adalah sebagai berikut:
1)
Peserta
didik dikelompokkan beranggotakan 4 orang
2)
Tiap
orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
3)
Anggota
dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian bab atau sub bab yang sama
bertemu dengan kelompok baru (Kelompok Ahli) untuk mendiskusikan sub bab merek
4)
Setelah
selesai diskusi sebagian tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan
berganian mengajar atau melaporkan hasil diskusinya kepada teman satu tim
mereka tentang sub bab yang harus dibahas
5)
Tiap
tim ahli mempresentasikan hasil diskusinya
6)
Guru
memberikan evaluasi
7)
Penutup
3.5 Manfaat pembelajaran kooperatif adalah :
- Meningkatkan
hasil belajar peserta didik.
- Meningkatkan
hubungan antar kelompok, belajar kooperatif memberi kesempatan kepada
siswa untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan teman satu tim untuk
mencerna materi pembelajaran.
- Meningkatkan
rasa percaya diri dan memotivasi belajar, belajar kooperatif dapat membina
kebersamaan, peduli satu sama lain dan tenggang rasa, serta mempunyai
andil terhadap keberhasilan tim.
- Menumbuhkan
realisasi kebutuhan peserta didik untuk belajar berpikir, belajar
kooperatif dapat diterapkan untuk berbagai materi ajar, seperti pemahaman
yang rumit, pelaksanaan kaijian proyek, dan latihan memecahkan masalah.
- Memadukan
dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan.
- Meningkatkan
perilaku dan kehadiran di kelas.
- Relatif
murah karena tidak memerlukan biaya khusus untuk menerapkannya.
3.6 Keterbatasan pembelajaran kooperatif adalah :
- Memerlukan
waktu yang cukup bagi setiap peserta didik untuk bekerja dalam tim.
- Memerlukan
latihan agar peserta didik terbiasa bekerja dalam tim.
- Model
belajar kooperatif yang diterapkan harus sesuai dengan pembahasan materi
ajar, materi ajar harus dipilih sebaik-baiknya agar sesuai dengan misi
belajar kooperatif.
- Memerlukan
format penilaian belajar yang berbeda.
- Memerlukan
kemampuan khusus bagi guru untuk mengkaji berbagai teknik pelaksanaan
pembelajaran kooperatif
4
Belajar Tematik
4.1 Hakikat
Belajar Tematik
Pembelajaran tematik dikemas
dalam suatu tema atau bisa disebut dengan istilah tematik. Pendekatan tematik
ini merupakan satu usaha untuk mengintegrasikan pengetahuan, kemahiran dan
nilai pembelajaran serta pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema. Dengan
kata lain pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang menggunakan tema dalam
mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman
bermakna bagi peserta didik. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran
tematik, peserta didik akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui
pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah
dipahaminya. Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran yang menolak
proses latihan/hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan
pengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori pembelajaran ini dimotori para
tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran itu
haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.
Pendekatan pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar
sambil melakukan sesuatu (learning by doing).
Dalam pelaksanaannya, pendekatan pembelajaran tematik ini bertolak
dari suatu tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama peserta didik
dengan memperhatikan keterkaitannya dengan isi mata pelajaran.
Tema dalam pembelajaran tematik menjadi sentral yang harus
dikembangkan. Tema tersebut diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di
antaranya:
1)
Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu.
2)
Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai
kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama.
3)
Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.
4)
Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan
mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik.
5)
Peserta didik lebih mampu merasakan manfaat dan makna belajar
karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.
6)
Peserta didik mampu lebih bergairah belajar karena dapat
berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam
satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain.
7)
Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan
secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga
pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial,
pemantapan, atau
pengayaan.
4.2 Pembelajaran tematik mempunyai ciri
khas dan karakteristik
tersendiri.
Adapun
ciri khas pembelajaran tematik di antaranya:
1) Pengalaman
dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan
siswa sekolah dasar.
2) Kegiatan
yang dipilih dalam pembelajaran tematik bertitik tolak dari minat dan kebutuhan
siswa.
3) Kegiatan
belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi peserta didik sehingga hasil
belajar dapat bertahan lebih lama.
4) Membantu
mengembangkan keterampilan berpikir siswa.
5) Menyajikan
kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering
ditemui peserta didik di lingkungannya.
6) Mengembangkan
keterampilan sosial siswa, misalnya: kerjasama, toleransi, komunikasi, dan
tanggap terhadap gagasan orang lain.
7) Menghargai
perbedaan individu, latar belakang budaya, dan pengalaman keluarga yang dibawa
pelajar ke kelasnya.
8) Menemukan
cara-cara untuk melibatkan anggota keluarga pelajar.
9) Memberikan
kesempatan bermain untuk menerjemahkan pengalaman ke dalam pengertian.
4.3
Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Tematik
Menurut
Kunandar (2007:315), Pembelajaran tematik mempunyai kelebihan yakni:
1. Menyenangkan
karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik.
2. Memberikan
pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat
perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
3. Hasil belajar
dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna.
4. Mengembangkan
keterampilan berpikir peserta didiksesuai dengan persoalan yang dihadapi.
5. Menumbuhkan
keterampilan sosial melalui kerja sama
6. Memiliki sikap
toleransi, komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
7. Menyajikan
kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam
lingkungan peserta didik.
Selain kelebihan di atas pembelajaran
tematik memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan pembelajaran tematik tersebut
terjadi apabila dilakukan oleh guru tunggal. Misalnya seorang guru kelas kurang
menguasai secara mendalam penjabaran tema sehingga dalam pembelajaran tematik
akan merasa sulit untuk mengaitkan tema dengan mateti pokok setiap mata
pelajaran. Di samping itu, jika skenario pembelajaran tidak menggunakan metode
yang inovatif maka pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tidak
akan tercapai karena akan menjadi sebuah narasi yang kering tanpa makna.
Rumpun
Model Pembelajaran
a. RUMPUN MODEL SOSIAL
Joice dan Weil berpendapat bahwa model sosial ini sengaja
dirancang untuk menilai dan tujuan akademik di dalam nilai-nilai sosial,
kebijakan public dan memecahkan masalah. Dalam model ini terbagi menjadi
beberapa type di antaranya:
1.
Partner
dalam Belajar
Membantu pelajar bekerja secara
efektif, dan membuat pelajar belajar secara lintas bidang studi dalam suatu
kurikulum, mengembangkan rasa solidaritas serta untuk memperoleh informasi dan
keterampilan melalui inkuiri dari suatu akademik.
2.
Investigasi
Kelompok
Investigasi kelompok menekankan
rencana pada pengaturan kelas umum atau konvensional. Rencana tersebut meliputi
pendalaman materi terpadu secara kelompok, diskusi, dan perencanaan proyek.
3.
Bermain
Peran
Bermain peran itu adalah guru
mengajak siswa untuk memahami prilaku sosial, peranannya dalam interaksi sosial
dengan cara-cara yang lebih efektif atau membuat pelajar menorganisasikan
informasi isu-isu sosial.
4.
Inkuiri
Yurispedensi
Inkuiri Yurispedensi ini mengajak
pelajar berpikir atas isu-isu sosial mengenai masyarakat suatu Negara, di
tingkat nasional maupun internasional. Tujuan model ini untuk mempelajari kasus
– kasus yang ada kemudian dikaitkan dengan kebijakan-kebijakan public.
5.
Keperibadian
dan Gaya Belajar
Dalam model ini dikemukakan adanya
gaya belajar pebelajar dan seorang guru harus yakin bahwa semua dapat
dikembangkan, perkembangan dapat terjadi secara optimal apabila lingkungan
menyediakan cara kerja secara konseptual.
6.
Inkuiri
sosial
Model ini dirancang untuk mengajarkan informasi,
konsep-konsep, cara berfikir, studi tentang nilai-nilai sosial dengan
menghubungkan aspek konitif dan sosial
Model
pemerosesan informasi menekankan pada cara meningkatkan pembawaan seseorang
memahami dunia dengan mempeoleh dan mengorganisasikan data, memahami masalah
dan mencari pemecahan serta mengembangkan konsep-konsep dan bahasa untuk
menyampaikannya.Dalam model ini terbagi menjadi beberapa type, di antaranya :
1.
Berpikir
Induktif
Diuangkapkan
oleh Hilda Taba mempunyai
misi yaitu ditujukan secara khusus untuk pembentukan kemampuan berpikir
induktif yang banyak diperlukan dalam kegiatan akademik meskipun diperlukan
juga untuk kehidupan pada umumnya. Model ini memiliki keunggulan melatihkan
kemampuan menganalisis informasi dan membangun konsep yang berhubungan dengan
kecakapan berpikir.
2.
Latihan
Inkuari
Diuangkapkan
oleh Richard Suchman mempunyai
misi yaitu Sama dengan model berpikir induktif, model ini ditujukan untuk
pembentukan kemampuan berpikir induktif yang banyak diperlukan dalam kegiatan
akademik meskipun diperlukan juga untuk kehidupan pada umumnya. Kelebihan model
ini dibandingkan dengan berpikir induktif lebih banyak melatihkan metode
ilmiah.
3.
Pembentukan
konsep
Diuangkapkan
oleh Jerome Bruner, Goodnow, dan
Austin mempunyai misi yaitu Dirancang terutama untuk pembentukan
kemampuan berpikir induktif, peserta didik dilatih mempelajari konsep secara
efektif.
4.
Perkembangan kognitif
Diuangkapkan
oleh Jean Piaget, Irving Siegel,
Edmund Sullivan, Lawrence Kohlberg mempunyai misi yaitu Dirancang
terutama untuk pembentukan kemampuan berpikir/pengembangan intelektual pada
umumnya, khususnya berpikir logis, meskipun demikian kemampuan ini dapat
diterapkan pada kehidupan sosial dan pengembangan moral.
5.
Advanced
organizer
Diuangkapkan
oleh David Ausubel mempunyai
misi yaitu Dirancang untuk meningkatkan kemampuan mengolah informasi melalui
penyajian materi beragam (ceramah, membaca, dan media lainnya) dan
menghubungkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah ada.
6.
Mnemonics
Diuangkapkan
oleh Pressley, Levin, Delaney mempunyai
misi yaitu Strategi belajar untuk mengingat dan mengasimilasi informasi
7.
Sinektik
Model
ini dirancang agar siswa dapat memechkan masalah dan menulis kegiatan-kegiatan,
serta menambahkan pandangan-pandangan baru pada suatu topik-topik dari suatu
bidang ilmu yang luas.
8.
Inkuiri Ilmiah
Model
ini membawa pelajar ke proses ilmiah dan dibantu mengumpulkan dan menganalisis
data, mengecek hipotesis dan teori, serta mencerminkan hakikat pembentukan
pengetahuan.
c.
RUMPUN MODEL PERSONAL
Model
belajar personal dimulai dari pandangan tentang harga diri individu. Sesorang
berusaha memperoleh pendidikn=an sehingga berusaha memahami diri sendiri dengan
lebih baik, bertanggung jawab atas pendidikannya sendiri, dan belajar mencapai
pengembangan yang baru dengan lebih kuat, lebih sensitive, dan kreatif. Dalam
model ini beberapa type, di antaranya :
1.
Pengajaran Nondirektif
Model ini menekankan agar siswa memainkan peran dengan
dibantu oelh guru . guru berusaha membantu pelajar untuk memahami bagaimana
memainkan peran utamma dalam pencapaian pendidikannya. Model ini digunakan
dengan beberapa cara
Pertama, digunakan sebagai model dasar untuk melaksanakan seluruh
program pendidikan.
Kedua, mengkombinasikan dengan model lain agar meyakinkan siswa
dalam kegiatan belajar
Ketiga, digunakan ketika pelajar merencanakan proyek belajar
mandiri maupun kooperatif.
Keempat, digunakan secara peridik ketika memberikan konseling kepada
pelajar.
2.
Peningkatan Harga Diri
Abraham maslow berpendapat bahwa model ini digunakan untuk
membimbing suatu program dalam hal rasa harga diri dan kemampuan aktualisasi.
d.
RUMPUN MODEL SISTEM PRILAKU
Model
ini sering disebut teori belajar sosial, modifikasi prilaku, terapi perilaku,
dan cybernetic. Ada beberapa type dalam model ini, di antaranya:
1.
Belajar Tuntas dan Pembelajaran
Terprogram
Model ini biasa disebut dengan teori
belajar tuntas, belajar dengan bagian demi bagian dengan cara maju
berkelanjutan. Setelah selesai pelajar diberikan latihan untuk mengujur
keberhasilan.
2.
Pembelajaran Langsung
Studi tentang perbedaan antara guru mengajar yang lebih baik
efektif dan kurang efektif, serta dari teori belajar sosial, suatu paradigm
untuk pembelajaran secara langsung kepada siswa, serangkaian kegiatan yang
jelas dengan tujuan.
3.
Belajar Melalui Simulasi : Latihan
dan Latihan Mandiri
Dua jenis latihan pendekatan dikembangkan dari teori
perilaku kelompok cybernetic. Salah satu diantaranya adalah model
teori-ke-praktikdan yang lain adalah simulasi.
Kepustakaan:
Sumber: Anitah. (2007). Strategi Pembelajaran di SD.
Jakarta: Kemdiknas(kolaborasi)
Depdiknas. 2007. Materi Sosialisasi dan
Pelatihan Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta.
Kunandar. 2007. Guru
Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) da
Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Yunanto, Sri Joko.
2004. Sumber Belajar Anak Cerdas. Jakarta: Grasindo.
Terimakasih udah bisa copy paste artikelnya...
BalasHapusmatakuliahnya sama dengan Universitas Terbuka FKIP Jurusan PGSD
Boleh dijadikan referensi buat tugas kuliah saya?
BalasHapusDoumo..:)