Putri Ramadhanti's zone...

hai.. nama aku dhanti panggil aja aku dhanti, atau dhan.. aku cuma anak perempuan biasa.. tapi aku juga insya allah jadi seorang guru.. aku hidup dengan kedua orang tua ku dan satu adik.. tapi ibuku sudah pergi meninggalkan aku, meskipun ibu sudah pergi terlebih dulu tapi aku tetap sayang dan cinta dengan ibu selamanya.....

Minggu, 31 Maret 2013

Model-Model dan Rumpun Pembelajaran


Model-model Belajar dan Rumpun Model Mengajar
1.    Belajar Kolaboratif

1.1 Hakikat Pembelajaran Kolaboratif
Belajar kolaboratif adalah suatu kegiatan belajar antara dua orang atau lebih yang dilakukan secara bekerja sama dalam suatu kelompok untuk memecahkan suatu masalah guna mencapai tujuan tertentu. Inti dari belajar kolaboratif yatu adanya kerja sama antara dua orang siswa atau lebih, memecahkan masalah secara bersama-sama, dan adanya tujuan yang ingin dicapai.
Ada dua unsur penting dalam belajar kolaboratif yaitu tujuan yang sama dan rasa ketergantungan yang positif antar anggota kelompok. Oleh karena itu untuk mencapai tujuantertentu setiap siswa harus mempunyai rasa ketergantungan yang positif maksudnya setiap anggota kelompok akan berhasil mencapai tujuan apabila seluruh anggotanya bekerja sama

1.2 Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam menerapkan belajar kolaboratif
  • Mengajarkan keterampilan bekerja sama, mempraktekkan kerja sama, dan seberapa baik kerja sama tersebut dilakukan.
  • Masing-masing individu diberi tanggung jawab dalam kegiatan belajar.
  • Meningkatkan kegiatan kelas untuk melaksanakan kelompok yang masing-masing anggotanya saling ketergantungan.
1.3 Manfaat-manfaat belajar kolaboratif antara lain
  • Menumbuhkan rasa tanggung jawab masing-masing individu.
  • Belajar memecahkan masalah bersama.
  • Menumbuhkan rasa kebersamaan antar anggota kelompok.
  • Setiap anggota merasa dirinya sebagai bagian dari kelpmpok
  • Menambah keberanian untuk mengungkapkan ide atau pendapat.
  • Menambah pengetahuan dan pengalaman anggota kelompok
2.    Belajar Kuantum
2.1 Hakikat belajar kuantum
Menurut Udin Saefudin Sa’ud (2008:127) menyatakan bahwa: Model pembelajaran Kuantum identik dengan sebuah simponi dan pertujukan musik. Maksudnya pembelajaran Kuantum, memberdayakan seluruh potensi dan lingkungan belajar yang ada, sehingga proses belajar menjadi seuatu yang menyenangkan dan bukan sebagai sesauatu yang memberatkan.

Sedangkan menurut Sugiyanto (2008:126) menyatakan bahwa: Pembelajaran Kuantum sebagi salah satu alternatif pembaharuan pembelajaran, menyajikan petunjuk praktis dan spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, bagaimana menyederhanakan proses belajar sehingga memudahkan belajar siswa. Pembelajaran Kuantum merupakan sebuah model yang menyajikan bentuk pembelajaran sebagai suatu “orkestrasi” yang jika dipilih dari dua unsur pokok yaitu: konteks dan isi. Konteks secara umum akan menjelaskan tentang lingkup lingkungan belajar baik lingkungan fisik maupun lingkungan psikhis. Sedangkan konten/isi berkenaan dengan bagaimana isi pembelajaran dikemas untuk disampaikan kepada siswa.

Bobbi DePorter & Mike Hernacki menganalogikan Quantum Learning dengan prinsip relativitas Einstein yaitu E= mc2 yang artinya masssa kali kecepatan cahaya kuadrat sama dengan energi. Jadi Quantum Learning sebagai “interaksi interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya”. Kemudian Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2003:16) juga menyatakan bahwa “Tubuh kita secara fisik adalah materi. Sebagai pelajar, tujuan kita adalah meraih sebanyak mungkin cahaya; interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya.”

Quantum Learning berakar dari upaya Lozanova dengan eksperimennya tentang suggestopedia. Prinsipnya bahwa sugesti dapat mempengaruhi hasil belajar dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif atau negatif. Beberapa tekhnik yang digunakan untuk memberikan sugesti psitif adalah sebagai berikut :
1.    Mendudukan siswa secara nyaman
2.    Memasang music latar dalam kelas
3.    Meningkatkan partisipasi individu
4.    Menggunakan poster untuk memberikan kesan besar sambil menunjukan informasi
5.    Menyediakan guru-guru yang terlatih dalam seni pembelajaran sugesti

Seorang guru yang menerapkan pembelajaran kuantum di sebut “mengorkestrasi belajar”. Pembelajaran kuantum mengandung unsure-unsur kebebasan, santai, menakjubkan, menyenangkan dan menggairahkan. Indicator pembelajaran kuantum berhasil jika siswa sejahtera. Siswa dikatakan sejahtera kalau aktivitas belajarnya menyenangkan dan menggairahkan

2.2 Manfaat Belajar Kuantum
1.    Suasana kelas menyenangkan.
2.    Siswa dapat memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya sebagai pendorong belajar.
3.    Siswa belajar sesuai dengan gaya belajar masing-masing.
4.    Apapun yang dilakukan oleh siswa sepatutnya dihargai.

2.3 Prinsip-prinsip Utama Pembelajaran Kuantum
1.    Segalanya Berbicara. Prinsip Segalanya Berbicara mengandung pengertian bahwa segala sesuatu di ruang kelas “berbicara”—mengirim pesan tentang belajar. Dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru, dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran. Setiap detail mengabarkan sesuatu—tentang diri dan sikap guru terhadap hal mengajar dan belajar. Sebab itu dalam proses pembelajaran, guru wajib menggubah kelas menjadi “komunitas belajar”—masyarakat mini yang setiap detailnya telah digubah secara saksama untuk mendukung belajar optimal—dari cara mengatur bangku, menentukan kebijakan kelas, hingga cara merancang pengajaran.
2.    Segalanya Bertujuan. Segalanya Bertujuan berarti bahwa semua upaya yang dilakukan guru dalam menggubah kelas mempunyai tujuan, yaitu agar siswa dapat belajar secara optimal untuk mencapai prestasi yang tertinggi.
3.    Pengalaman Sebelum Pemberian Nama. Proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk hal-hal yang mereka pelajari. Pengalaman menciptakan ikatan emosional dan peluang untuk penamaan. Pengalaman juga menciptakan pertanyaan mental, seperti: Apa?, Mengapa?,Bagaimana?. Jelasnya, pengalaman membangun keingintahuan siswa, menciptakan petanyaan dalam benak mereka, membuat mereka penasaran. Jadi, sebelum menyajikan materi pelajaran, guru perlu terlebih dahulu memberi kesempatan kepada siswa untuk mengalami atau mempraktikkan sendiri.
4.    Akui Setiap Usaha. Belajar mengandung resiko. Belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan. Ketika siswa telah mengambil langkah ini, mereka patut diberi pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka. Prinsip Akui Setiap Usaha mengandung konsekuensi bahwa dalam pembelajaran, guru harus mengakui setiap usaha siswa, baik usaha yang sudah tepat atau yang belum. Perlu dipahami bahwa dalam pembelajaran kuantum tidak dikenal istilah “gagal”. Yang ada hanyalahhasil dan umpan balik. Setiap hasil adalah prestasi, dan masing-masing akan menjadi umpan balik demi pencapaian hasil yang tepat sebagaimana dimaksudkan.
5.    Jika Layak Dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan. Perayaan merupakan sarapan bagi pelajar juara. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar. Mengadakan perayaan bagi siswa akan mendorong mereka memperkuat rasa tanggung jawab dan mengawali proses belajar mereka sendiri. Perayaan juga akan mengajarkan kepada siswa mengenai motivasi hakiki tanpa “insentif”. Siswa akan menanti kegiatan belajar, sehingga pendidikan mereka lebih dari sekadar mencapai nilai tertentu.Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa perlu sering-sering merayakan kesuksesan belajar, dan menghubungkan belajar dengan perayaan. Bentuk perayaan, misalnya: tepuk tangan, tiga kali hore, jentikan jari, kejutan, dan lain-lain.
3.    Belajar Kooperatif
3.1 Hakikat Pembelajaran Kooperatif
            Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) adalah model pembelajaran yang mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Model pembelajaran ini melibatkan siswa dalam kelompok yang terdiri dari empat atau lima siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda. Pembelajaran kooperatif memiliki suatu struktur tugas dan penghargaan yang berbeda dalam mengupayakan pembelajaran siswa. Struktur tugas itu menghendaki siswa untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil. Struktur penghargaan itu mengakui upaya kolektif dan individual. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan jika mereka berhasil sebagai kelompok. Usaha-usaha kooperatif akan menghasilkan participant yang berusaha saling menguntungkan.
3.2 Prinsip Belajar Kooperatif
1. Kesamaan tujuan
        Tujuan yang sama pada anak-anak dalam kelompok membuat kegiatan belajar leboh kooperatif. Pada suatu saat anak-anak mungkin dapat bekerja kooperatif saat bertanya tentang ejaan suatu kata atau berbagi pensil gambar saat menggambar. Jika suatu kelas bekerja sama dalam suatu permainan, tujuan kelompok adalah menghasilkan suatu permainan yang menyebabkan anak-anak lain senang atau mengapresiasi kelompok itu. Namun, tujuan tiap anak mungkin ingin menarik perhatian kelas lain, yang lain betul-betul menggunakan suatu kesempatan untuk mengerjakan tugas dengan baik. Namun, makin sama tujuannya semakin kooperatif.
2. Ketergantungan Positif
Ketergantungan antar individu dapat dilakukan dengan berbagai cara, sebagai berikut :
a.    Beri anggota kelompok peranan khusu untuk membentuk pengamat, peningkat, penjelas, atau perekam. Dengan cara ini maka kontribusi setiap individu sangat diperlukan untuk suatu keberhasilan
b.    Bagilah tugas mejadi sub sub tugas yang diperlukan untuk memenuhi keberhasilan tugas. Setiap anggota kelompok diberi sub tugas, input diperlukan disetiap anggota kelompok
c.    Nilailah kelompok sebagai satu kesatuan yang terdiri dari individu-individu dan anak-anak dapat bekerja secara berpasang-pasangan.
d.    Struktur tujuan kooperatid]f fan kompetitif dapat di koordinasikan dengan menggunakan kelompok belajar kooperatif tanpa pertentangan satu sama lain.
e.    Ciptakan situasi fantasi yang menjadikan kelompok bekerja bersama membangun imajinasi.

3.3 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
            Terdapat 6 langkah utama atau tanggapan di dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi peserta didik untuk belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian informasi, seringkali dengan bahan bacaan dari pada secara verbal. Selanjutnya peserta didik dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat peserta didik bekerja sama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Enam tahap pembelajaran koperatif dapat dirangkum pada tabel berikut:





Fase
Tingkah Laku Guru
  • Fase I
Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik
  • Fase II
Menyajikan informasi
  • Fase III
Mengorganisasikan peserta didik ke dalam kelompok belajar
  • Fase IV
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
  • Fase V
Evaluasi
  • Fase VI
Memberikan penghargaan
  • Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi peserta didik belajar.
  • Guru menyajikan informasi kepada peserta didik dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
  • Guru menjelaskan kepada peserta didik bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
  • Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

  • Guru mengevaluasi hasil belajar yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
  • Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

3.4 Jenis-jenis Pembelajaran Kooperatif
1.    Numbered Heads Toghether (NHT) atau Kepala Bernomor, langkah-langkahnya:
1)     Peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok dan setiap peserta didik mendapatkan nomor
2)     Guru membagikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
3)     Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan setiap kelompok mengerjakannya/mengetahui jawabannya
4)     Guru memanggil salah satu nomor siswa untuk melaporkan hasil kerja mereka
5)     Peserta didik yang lain memberi tanggapan
6)     Guru menunjuk nomor yang lainnya untuk kelompok berikutnya
7)     kesimpulan


2.    Think Pair and Share (TPS)
Srategi Think-pair-share yang digunakan oleh para guru menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin
Dicapai
2)      Peserta didik diminta untuk berpikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
3)      Peserta didik diminta berpasangan dengan teman sebelahnya dan mengutarakan pemikiran masing-masing
4)      Guru memimpin diskusi kecil. Tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
5)      Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkakan para peserta didik
6)      Guru memberi kesimpulan/penutup

3.    STAD (Student Teams Achievement Divisions)
Strategi ini menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:
1)     Membentuk kelompok beranggotakan 4 peserta didik secara Heterogen
2)    Guru menyajikan pelajaran
3)    Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang mengetahui menjelaskan kepada lainnya sampai mengerti
4)    Guru memberi pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat peserta didik menjawab pertanyaan tidak boleh saling membantu
5)    Memberi evaluasi
6)    Penutup



4.    Jigsaw
Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:
1)    Peserta didik dikelompokkan beranggotakan 4 orang
2)    Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
3)    Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian bab atau sub bab yang sama bertemu dengan kelompok baru (Kelompok Ahli) untuk mendiskusikan sub bab merek
4)    Setelah selesai diskusi sebagian tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan berganian mengajar atau melaporkan hasil diskusinya kepada teman satu tim mereka tentang sub bab yang harus dibahas
5)    Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusinya
6)    Guru memberikan evaluasi
7)    Penutup

3.5 Manfaat pembelajaran kooperatif adalah :
  1. Meningkatkan hasil belajar peserta didik.
  2. Meningkatkan hubungan antar kelompok, belajar kooperatif memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan teman satu tim untuk mencerna materi pembelajaran.
  3. Meningkatkan rasa percaya diri dan memotivasi belajar, belajar kooperatif dapat membina kebersamaan, peduli satu sama lain dan tenggang rasa, serta mempunyai andil terhadap keberhasilan tim.
  4. Menumbuhkan realisasi kebutuhan peserta didik untuk belajar berpikir, belajar kooperatif dapat diterapkan untuk berbagai materi ajar, seperti pemahaman yang rumit, pelaksanaan kaijian proyek, dan latihan memecahkan masalah.
  5. Memadukan dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan.
  6. Meningkatkan perilaku dan kehadiran di kelas.
  7. Relatif murah karena tidak memerlukan biaya khusus untuk menerapkannya.

3.6 Keterbatasan pembelajaran kooperatif adalah :
  1. Memerlukan waktu yang cukup bagi setiap peserta didik untuk bekerja dalam tim.
  2. Memerlukan latihan agar peserta didik terbiasa bekerja dalam tim.
  3. Model belajar kooperatif yang diterapkan harus sesuai dengan pembahasan materi ajar, materi ajar harus dipilih sebaik-baiknya agar sesuai dengan misi belajar kooperatif.
  4. Memerlukan format penilaian belajar yang berbeda.
  5. Memerlukan kemampuan khusus bagi guru untuk mengkaji berbagai teknik pelaksanaan pembelajaran kooperatif

4     Belajar Tematik
4.1  Hakikat Belajar Tematik
Pembelajaran tematik dikemas dalam suatu tema atau bisa disebut dengan istilah tematik. Pendekatan tematik ini merupakan satu usaha untuk mengintegrasikan pengetahuan, kemahiran dan nilai pembelajaran serta pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema. Dengan kata lain pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang menggunakan tema dalam mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran tematik, peserta didik akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan/hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. Pendekatan pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing).
Dalam pelaksanaannya, pendekatan pembelajaran tematik ini bertolak dari suatu tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama peserta didik dengan memperhatikan keterkaitannya dengan isi mata pelajaran.

Tema dalam pembelajaran tematik menjadi sentral yang harus dikembangkan. Tema tersebut diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:
1)    Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu.
2)    Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama.
3)    Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.
4)    Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik.
5)    Peserta didik lebih mampu merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.
6)    Peserta didik mampu lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain.
7)    Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial,
    pemantapan, atau pengayaan.

4.2  Pembelajaran tematik mempunyai ciri khas dan karakteristik  
tersendiri.
Adapun ciri khas pembelajaran tematik di antaranya:
1)    Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa sekolah dasar.
2)    Kegiatan yang dipilih dalam pembelajaran tematik bertitik tolak dari minat dan kebutuhan siswa.
3)    Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi peserta didik sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama.
4)    Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa.
5)    Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui peserta didik di lingkungannya.
6)    Mengembangkan keterampilan sosial siswa, misalnya: kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
7)    Menghargai perbedaan individu, latar belakang budaya, dan pengalaman keluarga yang dibawa pelajar ke kelasnya.
8)    Menemukan cara-cara untuk melibatkan anggota keluarga pelajar.
9)    Memberikan kesempatan bermain untuk menerjemahkan pengalaman ke dalam pengertian.



4.3  Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Tematik

Menurut Kunandar (2007:315), Pembelajaran tematik mempunyai kelebihan yakni:
1.    Menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik.
2.    Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
3.    Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna.
4.    Mengembangkan keterampilan berpikir peserta didiksesuai dengan persoalan yang dihadapi.
5.    Menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerja sama
6.    Memiliki sikap toleransi, komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
7.    Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan peserta didik.

Selain kelebihan di atas pembelajaran tematik memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan pembelajaran tematik tersebut terjadi apabila dilakukan oleh guru tunggal. Misalnya seorang guru kelas kurang menguasai secara mendalam penjabaran tema sehingga dalam pembelajaran tematik akan merasa sulit untuk mengaitkan tema dengan mateti pokok setiap mata pelajaran. Di samping itu, jika skenario pembelajaran tidak menggunakan metode yang inovatif maka pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tidak akan tercapai karena akan menjadi sebuah narasi yang kering tanpa makna.


Rumpun Model Pembelajaran
a.    RUMPUN MODEL SOSIAL
Joice dan Weil berpendapat bahwa model sosial ini sengaja dirancang untuk menilai dan tujuan akademik di dalam nilai-nilai sosial, kebijakan public dan memecahkan masalah. Dalam model ini terbagi menjadi beberapa type di antaranya:
1.    Partner dalam Belajar
Membantu pelajar bekerja secara efektif, dan membuat pelajar belajar secara lintas bidang studi dalam suatu kurikulum, mengembangkan rasa solidaritas serta untuk memperoleh informasi dan keterampilan melalui inkuiri dari suatu akademik.
2.    Investigasi Kelompok
Investigasi kelompok menekankan rencana pada pengaturan kelas umum atau konvensional. Rencana tersebut meliputi pendalaman materi terpadu secara kelompok, diskusi, dan perencanaan proyek.
3.    Bermain Peran
Bermain peran itu adalah guru mengajak siswa untuk memahami prilaku sosial, peranannya dalam interaksi sosial dengan cara-cara yang lebih efektif atau membuat pelajar menorganisasikan informasi isu-isu sosial.
4.    Inkuiri Yurispedensi
Inkuiri Yurispedensi ini mengajak pelajar berpikir atas isu-isu sosial mengenai masyarakat suatu Negara, di tingkat nasional maupun internasional. Tujuan model ini untuk mempelajari kasus – kasus yang ada kemudian dikaitkan dengan kebijakan-kebijakan public.
5.    Keperibadian dan Gaya Belajar
Dalam model ini dikemukakan adanya gaya belajar pebelajar dan seorang guru harus yakin bahwa semua dapat dikembangkan, perkembangan dapat terjadi secara optimal apabila lingkungan menyediakan cara kerja secara konseptual.

6.    Inkuiri sosial
Model ini dirancang untuk mengajarkan informasi, konsep-konsep, cara berfikir, studi tentang nilai-nilai sosial dengan menghubungkan aspek konitif dan sosial

Model pemerosesan informasi menekankan pada cara meningkatkan pembawaan seseorang memahami dunia dengan mempeoleh dan mengorganisasikan data, memahami masalah dan mencari pemecahan serta mengembangkan konsep-konsep dan bahasa untuk menyampaikannya.Dalam model ini terbagi menjadi beberapa type, di antaranya :
1.    Berpikir Induktif 
Diuangkapkan oleh Hilda Taba mempunyai misi yaitu ditujukan secara khusus untuk pembentukan kemampuan berpikir induktif yang banyak diperlukan dalam kegiatan akademik meskipun diperlukan juga untuk kehidupan pada umumnya. Model ini memiliki keunggulan melatihkan kemampuan menganalisis informasi dan membangun konsep yang berhubungan dengan kecakapan berpikir.
2.    Latihan Inkuari 
Diuangkapkan oleh Richard Suchman mempunyai misi yaitu Sama dengan model berpikir induktif, model ini ditujukan untuk pembentukan kemampuan berpikir induktif yang banyak diperlukan dalam kegiatan akademik meskipun diperlukan juga untuk kehidupan pada umumnya. Kelebihan model ini dibandingkan dengan berpikir induktif lebih banyak melatihkan metode ilmiah.
3.    Pembentukan konsep 
Diuangkapkan oleh Jerome Bruner, Goodnow, dan Austin mempunyai misi yaitu Dirancang terutama untuk pembentukan kemampuan berpikir induktif, peserta didik dilatih mempelajari konsep secara efektif.
4.    Perkembangan kognitif 
Diuangkapkan oleh Jean Piaget, Irving Siegel, Edmund Sullivan, Lawrence Kohlberg mempunyai misi yaitu Dirancang terutama untuk pembentukan kemampuan berpikir/pengembangan intelektual pada umumnya, khususnya berpikir logis, meskipun demikian kemampuan ini dapat diterapkan pada kehidupan sosial dan pengembangan moral.
5.    Advanced organizer 
Diuangkapkan oleh David Ausubel mempunyai misi yaitu Dirancang untuk meningkatkan kemampuan mengolah informasi melalui penyajian materi beragam (ceramah, membaca, dan media lainnya) dan  menghubungkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah ada.
6.    Mnemonics
Diuangkapkan oleh Pressley, Levin, Delaney mempunyai misi yaitu Strategi belajar untuk mengingat dan mengasimilasi informasi
7.    Sinektik
Model ini dirancang agar siswa dapat memechkan masalah dan menulis kegiatan-kegiatan, serta menambahkan pandangan-pandangan baru pada suatu topik-topik dari suatu bidang ilmu yang luas.
8.    Inkuiri Ilmiah
Model ini membawa pelajar ke proses ilmiah dan dibantu mengumpulkan dan menganalisis data, mengecek hipotesis dan teori, serta mencerminkan hakikat pembentukan pengetahuan.


c.    RUMPUN MODEL PERSONAL
Model belajar personal dimulai dari pandangan tentang harga diri individu. Sesorang berusaha memperoleh pendidikn=an sehingga berusaha memahami diri sendiri dengan lebih baik, bertanggung jawab atas pendidikannya sendiri, dan belajar mencapai pengembangan yang baru dengan lebih kuat, lebih sensitive, dan kreatif. Dalam model ini beberapa type, di antaranya :
1.    Pengajaran Nondirektif
Model ini menekankan agar siswa memainkan peran dengan dibantu oelh guru . guru berusaha membantu pelajar untuk memahami bagaimana memainkan peran utamma dalam pencapaian pendidikannya. Model ini digunakan dengan beberapa cara
Pertama, digunakan sebagai model dasar untuk melaksanakan seluruh program pendidikan.
Kedua, mengkombinasikan dengan model lain agar meyakinkan siswa dalam kegiatan belajar
Ketiga, digunakan ketika pelajar merencanakan proyek belajar mandiri maupun kooperatif.
Keempat, digunakan secara peridik ketika memberikan konseling kepada pelajar.
2.    Peningkatan Harga Diri
Abraham maslow berpendapat bahwa model ini digunakan untuk membimbing suatu program dalam hal rasa harga diri dan kemampuan aktualisasi.





d.    RUMPUN MODEL SISTEM PRILAKU
Model ini sering disebut teori belajar sosial, modifikasi prilaku, terapi perilaku, dan cybernetic. Ada beberapa type dalam model ini, di antaranya:
1.    Belajar Tuntas dan Pembelajaran Terprogram
Model ini biasa disebut dengan teori belajar tuntas, belajar dengan bagian demi bagian dengan cara maju berkelanjutan. Setelah selesai pelajar diberikan latihan untuk mengujur keberhasilan.
2.    Pembelajaran Langsung
Studi tentang perbedaan antara guru mengajar yang lebih baik efektif dan kurang efektif, serta dari teori belajar sosial, suatu paradigm untuk pembelajaran secara langsung kepada siswa, serangkaian kegiatan yang jelas dengan tujuan.
3.    Belajar Melalui Simulasi : Latihan dan Latihan Mandiri
Dua jenis latihan pendekatan dikembangkan dari teori perilaku kelompok cybernetic. Salah satu diantaranya adalah model teori-ke-praktikdan yang lain adalah simulasi.


Kepustakaan:




Sumber: Anitah. (2007). Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Kemdiknas(kolaborasi)

Depdiknas. 2007. Materi Sosialisasi dan Pelatihan Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta.

Kunandar. 2007. Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) da Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Yunanto, Sri Joko. 2004. Sumber Belajar Anak Cerdas. Jakarta: Grasindo.